Fitri, Dunia Gelap yang Memberi Terang

Kamis, 11 Juni 2009 | 03:52 AM

Sri Rejeki

Dia merasa kerasan sebagai tunanetra karena dia bisa menemukan keberartian hidup di tengah gelapnya dunia. Meski ia hanya bisa melihat sosok hitam orang di hadapannya, aktivitas Fitri Nugrahaningrum tak kalah dibandingkan orang lain. Tunanetra yang disandangnya tak menghalangi Fitri mewujudkan mimpinya.

Kalau saya tidak buta, barangkali tak merasakan indahnya dunia, bisa dekat dengan anak-anak. Banyak yang menawarkan untuk menjalani operasi di luar negeri, tetapi saya tolak. Saya takut lupa diri jika bisa melihat lagi,” katanya.

Fitri, lulusan S-2 Program Pengembangan Masyarakat Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, itu mengajar 100-an anak usia 2-12 tahun dalam kelompok belajar Sahabat Anak Raih Asa (Sahara). Ia dibantu para relawan yang bekerja tanpa gaji. Di Yayasan Al Fitrah yang menaungi Sahara, ada 10 relawan yang mengurusi bimbingan belajar, teater, kegiatan luar ruang, dan deteksi dini kesehatan/gizi anak.

Pada 1997 Fitri membentuk kelompok belajar yang awalnya terdiri atas enam anak jalanan. Ia mengajarkan mereka mata pelajaran sekolah, budi pekerti, dan baca tulis Al Quran.

Ia bercerita, suatu hari saat tengah menyeberangi jalan, ia hampir tertabrak mobil. ”Meskipun waktu itu saya sudah pakai tongkat, tapi alhamdulillah ada anak-anak yang menarik saya,” katanya tentang peristiwa saat dia duduk di bangku SMA itu.

Dari perkenalannya dengan enam anak penolongnya itu, Fitri merasa terenyuh mendengar kisah teman-teman barunya yang mencari nafkah dengan mencari kardus. Usia mereka saat itu antara lima dan tujuh tahun.

”Mereka sering diperlakukan tak manusiawi di jalanan. Cara bicara mereka kasar karena kerasnya hidup yang dijalani. Saya ajak mereka belajar di rumah. Anak yang masih sekolah dibantu biayanya agar tak perlu di jalanan lagi,” kata Fitri.

Sahara dan Samara

Dia menggalang dana dari teman-teman sekolah. Saat itu, ada yang menyumbang Rp 300, Rp 500, Rp 1.000 atau memberikan buku. Kurang dari sebulan, kelompok belajarnya diikuti 119 anak dengan peserta bertambah yang berasal dari anak yatim piatu dan anak dari keluarga tak mampu di sekitar rumahnya.

Pada 1998 kelompok belajar itu diberi nama Al Fitrah. Karena jumlah pesertanya makin banyak, Fitri minta bantuan kepada teman sekolah. Lokasi kegiatan belajar berpindah sampai lima kali, mengikuti kepindahan orangtuanya yang masih mengontrak.

Kegiatan ini lalu mendapat bantuan donatur. Fitri pun menuruti nasihat beberapa donatur untuk membentuk yayasan sebagai payung kegiatannya. Tahun 2000 dibentuk Yayasan Al Fitrah.

Kegiatan terus berjalan meski mengalami pasang surut hingga peserta tinggal 50 anak. Ini antara lain karena dia

sering tinggal di Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis tentang pemberdayaan masyarakat pascagempa di Bantul. ”Saya sedih, anak-anak itu kembali lagi ke jalanan,” katanya.

Tahun 2005 Fitri mendirikan pendidikan luar sekolah Satelit Masa Depan Negara (Samara). Ia menyewa gedung sekolah dasar negeri di Solo. Dengan bantuan berbagai pihak, peserta Samara terkumpul 483 anak yang terbagi dalam kelompok 2-4 tahun, 4-6 tahun, 7-9 tahun, dan 9-12 tahun. Sempat berjalan dua tahun, Fitri menghentikan kegiatan karena timbul masalah.

”Sekolah yang kami tempati merasa tersaingi meski kami baru belajar mulai pukul 14.00. Sebenarnya kami ditawari gedung lain oleh Diknas, tapi tempatnya terlalu jauh. Kasihan anak-anak yang orangtuanya tak mampu,” kata Fitri sambil mengajar beberapa anak membuat bunga.

Bersyukur, Fitri dan keluarga hampir merampungkan pembangunan gedung berlantai tiga di depan rumah kontrakan mereka, di tengah permukiman padat Kampung Kandang Sapi, Jebres, Solo. Rumah yang dibangun di atas lahan 100 meter persegi itu untuk kegiatan Samara dan Sahara.

Memanfaatkan ilmunya, Fitri menggabungkan berbagai konsep dan metode pendidikan. Selain memberikan materi pelajaran seperti di sekolah formal, anak-anak juga diberi muatan tentang moral dan budi pekerti, keterampilan, teater, serta kegiatan luar ruang. Mereka juga diajari kewiraswastaan agar nantinya bisa mandiri secara ekonomi.

Tinggi dan berat badan mereka juga dipantau. ”Ada dokter anak yang sukarela membantu memantau kondisi gizi anak-anak,” tutur Fitri.

Fitri yang suka menulis buku, terutama tentang motivasi bagi difabel, ini ingin mewujudkan mimpinya membuat sekolah yang menghargai sepenuhnya bakat anak. Baginya, tak ada anak bodoh, yang ada lingkungan yang tidak memahami bakat anak.

”Saya menggabungkan konsep homeschooling, sekolah alam, dan sekolah formal dalam pembelajaran kami,” katanya.

Untuk membiayai kegiatan itu, Fitri mengandalkan kocek pribadi dan sumbangan donatur. Ia bekerja sama dengan teman dan keluarga membuka berbagai usaha, seperti konveksi, percetakan, dan bimbingan belajar.

Di Samara, ditetapkan iuran pendidikan sukarela sesuai kemampuan, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000. Di kelompok belajar Sahara, peserta membayar Rp 1.000 bagi yang mampu. Biaya operasional kelompok belajar yang kini beranggotakan 100 peserta mencapai Rp 3 juta per bulan. Biaya itu dipenuhi dari bantuan tiga donatur, Rp 875.000 sebulan, dan penghasilan dari berbagai usaha.

”Saya masih dibantu ibu yang membuat sari kedelai dengan ibu-ibu di kampung. Bapak juga membantu dengan membuat baju pesanan untuk berbagai instansi di wilayah Indonesia timur,” katanya.

Tukang pijat

Ayahnya, BAE Soewarno (65), pensiunan tentara dan ibunya, Tjanti Herawati (51), seorang bidan, mendorong anak-anaknya berprestasi. ”Ibu selalu berpesan agar saya menjadi anak pintar. Saya sering mendengar Bapak berdoa agar saya tak hanya jadi tukang pijat,” kata Fitri.

Sindroma Steven Johnson (SSJ) merenggut daya lihat Fitri. Penglihatannya mundur saat ia kelas V SD dan benar-benar hilang saat duduk di bangku SMA. Seorang dokter anak memberinya obat yang malah membuat dia pingsan dan sekujur tubuhnya gosong. Kasus ini yang pertama terjadi di Solo kala itu.

SSJ adalah reaksi alergi sistemik terhadap obat atau virus tertentu. SSJ menyerang selaput lendir sehingga bisa menyebabkan komplikasi berupa radang kornea dan menyerang bola mata. Ini dapat mengakibatkan kebutaan. SSJ juga bisa menimbulkan radang hati, ginjal, saluran pencernaan, sendi, dan paru.

Akibat terkena sindrom ini, Fitri dirawat di rumah sakit selama enam bulan. Hanya sempat seminggu di rumah, kembali ia harus menginap di rumah sakit selama tiga bulan. Dokter pernah memvonisnya tak mampu bertahan hidup lama. Tuhan berkehendak lain dan memberinya kehidupan hingga kini. Anugerah ini dimaknai Fitri dengan karya nyata bagi sesama.

2 responses to “Fitri, Dunia Gelap yang Memberi Terang

  1. bisa minta kontak telepon atau alamat Ibu Fitri?
    terima kasih

  2. barang siapa buta didunia ini dan ia bersabar dan ridha maka Allah akan menggantinya dengan mata di surga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s