Emaak..

Emak..
Jika tidak karenamu, mungkin aku tak ‘kan pernah jadi begini
Limpahan kasihmu membuat nyaman hidup ini
Kesederhanaan dan kebersahajaanmu terpatri kokoh di hati
Ketegasanmu menegarkan mental ini hari ke hari
Ajaran-ajaranmu membentukku menghargai perbedaan, menghargai sesama makhluk Tuhan
Meski kita Nahdliyyin, tapi kau mengirimkanku ke sekolah Muhammadiyah
Kau tak pernah melarangku berkarib dengan anak-anak Islam Jamaah di kampung kita: Kemayoran
Kau juga tak melarangku bergaul dengan gadis Batak kecil dari keluarga Kristen yang taat
Kau mengizinkanku mengaji pada seorang mahasiswa MIPA UI yang bercelana “ngegantung”
Kau membelaku ketika aku “dicap” Muhammadiyah oleh para tetangga dan kawan sepermainanku
Tapi kau juga tak keberatan aku “nyantri” mingguan pada seorang Habib vokal yang menentang Orde Baru
Kau juga tak pernah melarang ketika aku mengaji mingguan pada ustadz Syiah dari Madura di Priok
Aku beruntung telah dididik perempuan bersahaja lagi perkasa, sepertimu
Emaaaaak.. Kaulah nenekku tercinta, bahkan cintaku melebihi dari “emak”biologisku sendiri
Sebab, kau mencintaiku dengan hati
Maka, aku pun begitu..
Emaak.. Di pusaramu nan meneduhkan hati ini
Kubersimpuh.. Duhai Yang Maha Pemberi Kasih dan Sayang:
Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula
Hal jazaaul ihsaan, illaal ihsaan..
Yaa Rahmaan Yaa Rahiim, ridhailah ahli kubur yang jasadnya berdiam di pusara ini..

(Kemiri Rawamangun, ketika Ashar tiba – 12 Okt ’12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s