NGALOR-NGIDUL bareng bang fir

Masukan dari Juni 2007

Persiapan yang Baik Menghadapi Kemungkinan Flu Pandemi

Juni 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kita tentu berharap pandemi itu tidak akan pernah terjadi. Namun, upaya kearah persiapan dan “jaga-jaga” penting untuk kita lakukan, bila pandemi itu benar-benar datang. Seperti apakah jika pandemi itu terjadi?

Hingga saat ini, penularan virus flu burung H5N1 baru terjadi dari unggas ke unggas dan dari unggas ke manusia. Keadaan ini disebut epidemi. Indonesia sudah sejak Juni 2005 menjadi wilayah epidemi bagi wabah penyakit flu burung.

 Gejala-gejala awal flu burung pada manusia seringkali sama dengan influensa musiman (batuk, sakit tenggorokan, demam tinggi, sakit kepala, sakit otot, dll). Penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia (penyakit pada paru-paru) dimana mungkin akan terjadi, kekurangan angin, susah bernafas dan gagal pernafasan. Lantas, bagaimanakah cara penularan virus flu burung dari unggas ke manusia?

         Kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati;

         Kontak langsung dengan kotoran atau lendir unggas yang terserang flu burung melalui saluran nafas atau selaput mata;

         Melalui udara yang tercemar virus yang berasal dari kotoran atau lendir unggas yang terserang flu burung.

Nah, lalu seperti apakah kondisi jika pandemi itu terjadi? Keadaannya adalah ketika virus itu dapat menular dengan mudah sebagaimana dengan flu biasa (virus hasil mutasi H5N1 menjadi sebuah virus baru dan tentu dengan nama baru nantinya). Dimana jika kita bersin atau batuk dekat kawan kita, maka besar kemungkinan kawan kita itu akan tertular pula. Namun celakanya, jika pada flu biasa kita mudah sembuh (sekitar 1 minggu) maka pada flu pandemic ini tipis kemungkinan untuk sembuh, karena memang virus flu pandemic yang cikal-bakalnya dari virus flu burung H5N1 itu merupakan virus berbahaya. Virus pandemic, seperti juga virus flu burung, tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat korbannya meninggal dunia.

Maka, bila keadaan ini benar-benar terjadi virus flu pandemik itu akan sangat mudah menyebar ke seluruh dunia, apalagi alat transportasi di masa moderen ini sudah jauh lebih canggih dibandingkan dengan pada 1918 – 1919 ketika dunia dlanda flu pandemic (flu Spanyol H1N1). Saat itu saja 50 juta kematian terjadi di seluruh dunia. Amerika Serikat kehilangan 500.000 warga negara akibat flu ini.

Jadi, waspada akan bahaya flu pandemic yang bermula dari virus flu burung itu harus senantiasa kita lakukan. Hidup bersih dan sehat, kita dan lingkungan kita harus terus dijaga. Orang Inggris bilang, “We can’t put it out of our minds. We must be prepared for emergencies.”  

Kategori: rupe-rupe

Flu Burung & Kite

Juni 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Flu BurungFlu Burungbird_with_flu-2.gifDalam dua bulan ni (pertengahan Juni – Agustus) ane bakalan banyak terlibat dalem isu seputeran flu burung.  Maklum ane ditunjuk sebagai Lead Trainer untuk Avian Influenza Project kantor ane Internews Indonesia. Memang, dalam kurun dua tahun ini flu burung semakin menjadi salah satu permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian dunia.

Kasus pertama wabah penyakit flu burung di Indonesia terjadi pada pertengahan 2003. Saat itu  baru terjadi pada unggas, khususnya ayam. Penyakit ini muncul untuk pertama kali di provinsi Jawa Tengah dan Banten kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai daerah di Indonesia. Pada awal 2004 penyakit yang dibawa virus jenis H5N1 ini sudah menyebar ke seluruh provinsi di pulau Jawa. 

Dan.. sejak Juni 2005 (kasus pertama penularan dari unggas ke manusia yang menimpa sebuah keluarga di Tangerang) virus flu burung telah menulari 100 orang di Indonesia, angka tertinggi di dunia. Sebanyak 80 orang diantaranya meninggal dunia akibat penyakit tersebut (data per 30 Juni 2007).   

Menurut data dari Departemen Kesehatan, jumlah penularan flu burung dari unggas ke manusia (26 kasus, 23 diantaranya meninggal dunia) menurun dibandingkan dengan tahun lalu (55 kasus, 45 meninggal dunia), namun angka kematian (case fatality rate) melonjak hingga 80 persen. 

Ketua Harian KOMNAS FBPI (Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza) Bayu Krisnamurthi mengatakan kasus-kasus terbaru pada manusia lebih banyak datang dari daerah pedesaan dibandingkan perkotaan. Banyaknya kasus dari pedesaan membuat para korban sulit menjangkau pelayanan kesehatan yang cepat. Dua kasus kematian terakhir terjadi pada R (wanita, 15 th) asal Desa Gondang Kec. Limbangan Kab. Kendal, Jawa Tengah dan Y (pria, 29 th) warga Kec. Peranab Kab. Indragiri Hulu, Riau. 

Nah coba kita lihat kronologis kasus yang terjadi pada R. Almarhumah onset (mula sakit) pada 21 Mei 2007 dengan gejala panas, batuk dan sakit tenggorokan. Pada hari itu pula ia diperiksakan pada bidan di desanya, karena tidak membaik pada 24 Mei 2007 diperiksakan kembali ke bidan. Dan pada 25 Mei dia diperiksakan ke Puskesmas Limbangan dan kemudian dirujuk ke RS Tugurejo. Hari itu juga oleh RS Tugurejo, pasien dirujuk ke RS Kariadi Semarang. Pada 29 Mei pukul 21.00 pasien meninggal dunia. Hasil laboratorium menunjukkan lekosit dan trombosit normal, rontgen pneumonia. Faktor resiko kemungkinan tertular virus flu burung karena kontak dengan ayam mati dan/atau mengolah ayam sakit. Dan dalam waktu yang tidak lama (8 hari) virus flu burung telah berhasil merenggut nyawa R. 

Flu Burung sampai saat ini belum ada obatnya. Tamiflu atau Oseltamivir (obat Flu Burung) hanya menekan perkembangan virus dan efektif diberikan 2x 24 jam sejak pasien menderita sakit. Jadi, untuk kasus R nampaknya memang sudah sulit ditolong karena sudah terlambat dalam penanganan dini ketika R merasa sakit pada 21 Mei lalu. 

Kesadaran publik tetap menjadi strategi utama dalam mengalahkan flu burung. Untuk itulah perilaku hidup bersih dan sehat menjadi penting agar virus flu burung tidak mudah berjangkit di tubuh kita.

Oleh karena itu kita wajib waspada agar terhindar dari flu burung (supaya juga tidak terjadi flu pandemi) dengan melakukan perilaku bersih dan sehat meliputi:

1.      Jangan sentuh unggas yang sakit atau mati. Jika terlanjur cepat-cepat cuci tangan pakai sabun dan laporkan ke kepala desa.

2.      Cuci pakai sabun tangan dan peralatan masak sebelum masak atau memasak. Masak ayam dan telur ayam sampai masak sebelum dikonsumsi.

3.      Pisahkan unggas dari manusia. Dan juga pisahkan unggas baru dengan ungas lama selama 2 minggu.

4.      Periksakan ke Puskesmas atau Rumah Sakit jika mengalami gejala flu dan demam setelah kontak dengan unggas/ayam.

Kategori: rupe-rupe