ini dia reportase itu:
Unjuk Rasa Petani dan Penjelasan Kapolda Nurfaizi tentang Penculikan Aktivis Mahasiswa
Jakarta, 1808200 pk. 10.25, Quadrant
Natural Sound: Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan…
Pendengar, Sidang Tahunan MPR 2000 hari ini, Jumat 18 Agustus, memasuki hari terakhir. Sejumlah Ketetapan MPR yang telah dibahas anggota Majelis selama lebih kurang dua minggu ini, menurut rencana akan disahkan dalam Sidang Paripurna hari ini. Namun begitu, banyak ketidakpuasan masyarakat atas kinerja anggota Majelis yang menurut mereka banyak Rancangan Ketetapan MPR yang tidak menyentuh permasalahan yang sesungguhnya sedang dihadapi mayoritas rakyat.
Salah satu dari mereka yang tidak puas dengan hasil-hasil ST MPR 2000 ini adalah Serikat Petani Pasundan sekaligus mewakili keberadaan Serikat Petani se-Indonesia. Sejak pk. 09.00 Wib mereka menggelar aksi keprihatinan terhadap anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terhormat. Mereka menyatakan penyesalan dan kekecewaan yang sedalam-dalamnya, karena mereka menganggap anggota Majelis tidak serius memperjuangkan nasib kaum petani. Hal itu bisa dibuktikan dengan tidak diloloskannya ketetapan MPR tentang “Pembaharuan Agraria” ataupun dilakukannya pembahasan serius mengenai persoalan-persoalan pembaharuan agraria untuk petani, padahal 80% penduduk Indonesia adalah petani yang secara langsung sangat berhubungan erat dengan persoalan agraria dan seluruh bangsa ini sangat terkait dengan produk pertanian. Maka bisa dibayangkan nasib mereka, apabila krisis menimpa petani yang selanjutnya bisa berdampak kepada krisis pangan, maka bisa dipastikan negara ini akan mengalami instabilitas di tingkat perkotaan, sehingga segala program pembangunan ataupun segala bentuk kebijakan yang terkait dengan kehidupan ketatanegaraan tidak akan bisa berjalan dengan baik. Serikat Petani Pasundan berharap dengan dilaksanakannya ST MPR ini nasib petani akan diprioritaskan untuk dibahas, akan tetapi sampai saat ini para wakil rakyat tidak menampakkan tanda-tanda peduli terhadap nasib petani.
Dalam aksi keprihatinan kali ini mereka menuntut 9 hal yang harus segera diselesaikan, baik oleh pemerintah maupun oleh MPR. Diantaranya adalah, menuntut seluruh anggota MPR untuk lebih berpikir tentang nasib rakyat, khususnya kaum petani ketimbang berebut pengaruh politik yang ujung-ujungnya hanya sekedar berebutan kekuasaan.
Kemudian, mereka juga menuntut menghentikan kekerasan dan intervensi militer dalam penyelesaian kasus tanah serta harus ada jaminan perlindungan keselamatan bagi para pejuang petani serta menuntut MPR untuk mendesak pihak keamanan agar membebaskan 4 orang aktivis Serikat Petani se-Indonesia yang ditahan karena melakukan aksi menuntut pembaharuan agraria pada ST MPR 2000 ini, tepatnya pada aksi unjuk rasa 14 Agustus 2000 lalu yang hingga hari ini keberadaan mereka tidak diketahui rimbanya. Aktivis Serikat Petani Pasundan menegaskan penculikan ini tidak menyurutkan langkah untuk terus memperjuangkan keadilan agraria bagi mayoritas rakyat Indonesia. Bagi mereka rakyat bersatu, rakyat pasti menang. Dan hidup petani!
Pendengar, untuk menjelaskan masalah yang disebut Serikat Petani Pasundan sekaligus mewakili Serikat Petani se-Indonesia dengan penculikan 4 aktivis mereka, bersama saya, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nurfaizi yang akan menjelaskan benar atau tidaknya apa yang para aktivis sebut dengan penculikan tersebut.
Cue: Inspektur Jenderal Nurfaizi
“Masyarakat jangan terprovok, yang benar kalau unjuk rasa silakanlah unjuk rasa, tapi jangan memfitnah. Kalau memfitnah kan harus kita jelaskan kepada masyarakat. Nanti kita citranya jelek dong, Polisi. Orangnya minta diantar kok sampai KPU, kalau nggak pulang itu bukan urusan saya dong. Mungkin dia terus nginap dirumah temannya, tapi bilangnya diculik. Ada saksinya, petugas medisnya ada, ambulan itu yang antar turun di KPU”.
Demikian keterangan Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Nurfaizi.
Dari depan Gedung DPR/ MPR RI Senayan, Jakarta.
Firmansyah, Quadrant, melaporkan.